Lebih tipis dari sehelai rambut

Januari 26, 2008 at 6:01 am | In sujud | Leave a Comment

Tiap perkataan yang padanya tidak ada
peringatan kepada Allah itu adalah
tidak berfaedah, tiap-tiap diam yang
tidak diikuti dengan berfikir itu
adalah kelalaian, dan setiap pandangan
yang tidak dapat memberi pengajaran
itu adalah sia-sia. Na’udzubillah.

Begitu banyak perkataan yang tidak
berfaedah sering kita ucapkan. Tak
jarang, bahkan acapkali kita
membicarakan hal-hal yang tidak
berguna dan sia-sia. Begitu banyak
perkataan kita yang telah menyakiti
hati orang lain, memancing permusuhan.
Bahkan dengan lantang dan bangga
melontarkan umpatan-umpatan dan olok-
olokan kepada orang lain, yang sama
sekali kita tidak tahu mungkin mereka
yang kita olok-olokan lebih baik dari
kita. Justru kitalah yang merendahkan
diri kita sendiri dengan olokan-olokan
itu.

Dengan mudahnya kita mengucapkan
sumpah serapah dan janji-janji palsu
untuk menutupi aib diri, padahal kita
tahu begitu mudahnya Allah membukakan
aib kita jika Dia berkehendak. Tapi
tidak, Dia Maha Penyayang kepada semua
makhlukNya.

Mengapa? Mengapa kita tidak
menggunakan lisan kita untuk
mengucapkan perkataan-perkataan yang
baik, yang mengajak kepada kebaikan,
mencegah kemunkaran, saling menasehati
dalam taqwa, memuji, dan mensyukuri
keagunganNya?

Kadang kita lebih memilih untuk diam,
bukankah yang seperti itu adalah
selemah-lemah iman. Bahkan tidak
jarang diam kita hanya sekedar diam,
diam yang tidak mendo’akan, diam yang
pasrah kepada keadaan tanpa berusaha
mengubahnya. Bukankah itu sia-sia?
Begitu tipisnya iman kita, lebih tipis
dari sehelai rambut yang dibelah
tujuh.

Mungkin pada saat-saat tertentu kita
memang perlu diam, diam
mengintrospeksi diri, berpikir untuk
memperbaikinya, diam merenungi
kebesaranNya, berpikir mengungkap
hikmah dalam segala kejadian yang
tiada kejadian terjadi secara
kebetulan melainkan telah direncanakan
dan atas ijinNya, berpikir mentafakuri
kebesarannya di alam semesta, yang
kesemuanya itu senantiasa bertasbih
menyucikan asmaNya dan tak satu pun
luput dari pengawasanNya. Ternyata
banyak sekali kelalaian yang tidak
kita sadari.

Seringkali kita melihat kejadian di
sekitar kita, akan tetapi kita tidak
bisa dan tidak mau mengambil pelajaran
atasnya. Akankah kita biarkan terus
menerus pandangan ini sia-sia? Hanya
untuk menatap tanpa sedikit pun
pelajaran yang dapat kita ambil,
melihat apa saja tanpa filter, sebebas-
bebasnya. Bukankah jelas
tuntunanNya, ‘tundukanlah
pandanganmu’. Pantaskah pandangan
seperti ini memandang wajah Allah di
surga sana?

No Comments Yet »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.